Potret (Buram) Calon Legislatif ( Wakil Rakyat )

Gambar

Selama ini calon legislatif (caleg) yang akan menam pung aspirasi rakyat masih dihasilkan dari pemilu. Sebagai ciri khas negara demokrasi, pemilu selalu diramaikan dengan hadirnya berbagai partai politik (parpol) yang mengusung flatform dan caleg masing-masing. Maka parpol digunakan sebagai kenderaan politik menuju Senayan. Satu hal yang mesti dipahami, jangan sampai caleg yang dijagokan parpol terlibat dengan kasus hukum. Apalagi caleg yang diajukan tidak tahu tentang kebutuhan. Terkadang caleg yang terjaring hanyalah pajangan karena dapat meraup suara dalam pemilu sementara kualitasnya sangat kurang. Kehadiran caleg tersebut akan menambah suram masa depa bangsa. di gedung Senayan mereka akan bersuara lantang seolah peduli sama rakyat tapi dibelakang mereka menusuk rakyat pembuatan legislasi yang tidak berpihak pada rakyat, mengadakan kongkalinkong dengan pengusaha yang mengorbankan kepentingan publik. 

Perbuatan yang fatal, apabila caleg tersebut berhasil lolos menjadi pemegang kedaulatan rakyat. Bagaimana mau tahu tugas dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat tanpa hati nurani? Pancasila yang dihasilkan dengan jerih payah oleh founding father bangsa memuat nilai-nilai kerakyataan dan menjadi tugas yang harus dikerjakan pemerintah (eksekutif, legislatif dan yudikatif). Kehadiran caleg sangat menunjang suksesnya tugas negara. Dengan demikian keberadaan caleg tidak hanya mengikuti ritualitas pesta demokrasi tetapi memberikan dampak yang sangat besar demi terciptanya Indonesia yang maju, adil dan sejahtera. Caleg yang peduli terhadap nasib rakyat layak mewakili semua masyarakat. Caleg tersebut dapat diketahui melalui rekam jejaknya. 

Track Record

Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan tak sedikit anggota DPR yang tak kompeten dan tak punya integritas. Hal itu bisa dilihat dari kinerja mereka di Gedung parlemen. Kita harus berhati-hati dengan kualitas setiap caleg. Jangan sampai kehadiran mereka di Senayan justru menciderai demokrasi. Artinya, publik mesti hati-hati jangan terjebak dengan jargon-jargon dan janji-janji manis para caleg yang punya kepentingan sesaat yaitu terpilih duduk dikursi parlemen. Ibaratnya, jangan sampai rakyat memilih kucing dalam karung, karena rakyat  tidak akan tahu bagaimana kualitas kucing tersebut.

Keberhasilan demokrasi melalui pemilu legislatif tentu dilihat dari sejauh mana rekam jejak caleg yang disodorkan parpol untuk mewakili rakyat. Supaya rakyat tidak tertipu dengan segala janji caleg, maka diperlukan kerjasama semua elemen masyarakat. Dalam hal ini peran serta KPU sebagai fasilitator pemilu harus mampu membantu masyarakat dalam melakukan seleksi caleg. KPU sebagai pelaksana pesta rakyat harus jeli dalam menerima caleg yang dijagokan parpol. Artinya, KPU tidak berhenti pada caleg yang didaftarkan parpol, tetapi KPU juga selain memajang gambar partai dan foto caleg juga mencantunkan rekam jejak caleg. Sebagai buah demokrasi, melalui strategi tersebut, rakyat bisa memberikan kritik dan masukan sehingga mengetahui siapa caleg yang akan mewakili rakyat di parlemen. 

Sekali lagi pesta rakyat yang telah berlalu menandai buruknya demokrasi di negeri ini. Wakil rakyat yang sudah menerima kedaulatan dari rakyat lupa akan tugas yang telah diterima dari rakyat. Begitu duduk di kursi empuk semua menjadi hampa. Kinerja yang buruk (fungsi anggaran, fungsi legislasi dan fungsi pengawasan hampir mandul), perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma, serta membuat kebijakan yang tidak prorakyat. Terjadi penzaliman terhadap hak-hak rakyat. Apa yang semestinya diterima rakyat menjadi malapetaka. Pendidikan yang seyogianya kebutuhan dasar tidak pernah terealisasi akibat kurangnya perhatian wakil rakyat untuk memberantas buta huruf. Belum lagi, anggota legislatif tersangkut masalah hukum. 

Akhirnya, publik semakin tidak punya harapan akan perbaikan hidup, sehingga berakibat fatal terhadap demokrasi. Muncul apatisme terhadap parpol dan caleg, sehingga tidak percaya lagi kepada parpol kemudian tidak memilih disebut juga dengan gerakan golput (golongan putih) sebagai imbas dari kekecewaan terhadap parpol dan caleg. 

Caleg yang kita harapkan menjadi wakil rakyat tahun depan ialah mereka yang benar-benar berasal dari rakyat dan mengabdi untuk rakyat. Caleg yang dijagokan dalam pemilu belum tentu memiliki kemampuan untuk mengabdi kepada rakyat. Terkadang pencalegan terlalu dipaksakan, mungkin karena pamornya kuat dan terkenal sehingga pujaan semua orang. Akhirnya dapat meraup suara dan menguntungkan parpol. Tidak asing bagi kita caleg yang tidak kompeten (asal jadi) justru menghasilkan malapetaka bagi rakyat yang diwakili. Akibat kesalahan ini, muncul berbagai persoalan krusial. Ketika caleg sudah duduk di Senayan maka  terlibat berbagai kasus yang  menciderai demokrasi. Kasus tersebut antara lain:

Pertama, kasus Korupsi. Korupsi berada dipusat kekuasaan, korupsi sudah berjamaah. Itulah bahasa publik. Memang benar, mana mungkin rakyat kecil korupsi. pasti yang memegang kekuasaan. Tidak dapat disangkal proses pencalegan membutuhkan uang. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mensosialisasikan diri ke publik, membuat foto caleg, gambar parpol dan biaya administrasi  yang diklaim tidak bayar. Biasanya korupsi yang menimpa wakil rakyat dikarenakan biaya politik yang terlalu mahal. Untuk menjadi pemimpin harus bayar mahal maka demokrasipun ikut mahal. Kekeliruan yang sangat fatal, mengingat demokrasi semakin subur. 

Kedua, pelecehan seksual. Pejabat negara sering identik dengan gila jabatan,

perempuan dan harta. Seolah setiap pemimpin memegang jabatan untuk mencari ketiga hal diatas. Tidak dapat dipungkiri, realitas dilapangan menunjukkan, wakil rakyat banyak yang terlibat dengan pelecehen seksual. Di Senayan mereka berkoar-koar menyuarakan kepentingan rakyat, setelah keluar dari gedung mereka justru menciderai keadilan rakyat. Tindakan yang sangat brutal dari pemegang kedaulatan rakyat. 

Ketiga, suka berpelesiran. Mesti diakui kunjungan kerja merupakan salah satu program kerja wakil rakyat. Acapkali kesempatan ini dimanfaatkan  wakil rakyat untuk bersenang-senang bersama anggota keluarga ke luar negeri. Kunjungan kerja tanpa draft dan agenda yang jelas hanya menghabiskan anggaran yang sangat besar. Tidak memiliki laporan hasil kunjungan kerja. Itulah ciri wakil rakyat yang sudah mengabdi ke negara tercinta. Ada semacam tradisi piknik ala anggota legislatif. 

Keempat, suka bolos. Rapat merupakan agenda penting yang diwajibakan untuk wakil rakyat. Biasanya rapat membicarakan tentang persoalan rakyat. Pada saat rapat, seringkali wakil rakyat absen tanpa alasan yang jelas. Hal ini akan berakibat fatal terhadap hasil rapat. Seringkali keputusan rapat tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat, sehingga banyak yang diuji coba ke Mahkamah Konstitusi yang dianggap menciderai kepentingan publik. Kriteria caleg diatas tidak patut disajikan ke publik. Orang yang memiliki ciri-ciri diatas mesti dilarang untuk tidak mendaftar sebagai caleg apapun alasanya demi keadilan hukum.

Berintegritas

Apapun kriteria demokrasi, rakyat tetap menginginkan caleg yang akan menampung aspirasinya memiliki integritas yang kuat, berdedikasi tinggi dan tanggung jawab. Sebagai negara yang pernah dijajah, tentu memiliki pengalaman pahit dan manis, masa lalu mesti dijadikan sebagai pelajaran masa kini untuk mendapatkan yang lebih baik masa depan. Caleg yang terpilih belajar dari kriteria caleg diatas, tentu caleg demikian tidak layak dipilih untuk mewakili rakyat sebagai perpanjangan tangan rakyat. Satu hal yang perlu diingat, meskipun banyak wakil rakyat yang terjerat kasus korupsi bukan berarti publik apatis. Masih banyak caleg yang mampu membawa rakyat keluar dari keterpurukan, kemiskinan. Biasanya caleg tersebut memiliki karakter yang kuat, berintegritas, dan berdedikasi tinggi. Oleh karena itu, publik sebagai konstituen harus waspada terhadap caleg yang menjual kegelisahan rakyat demi kekuasaan. 

Selama ini  caleg menghalalkan segala cara demi jabatan, termasuk menggunakan politik uang pada saat kampanye. Untuk itu, caleg yang berkualitas dan berintegritas hanya didapat melalui adanya kesepakatan bersama seluruh masyarakat untuk menjungjung tinggi nilai-nilai pancasila dan demokrasi. Mari bersatu membawa Indonesia keluar dari belenggu penjajahan. Sebab belenggu penjajahan bisa dihapuskan melalui kerjasama yang baik dari semua warga Indonesia untuk melahirkan pemimpin yang berpihak pada rakyat. Menuntaskan buta huruf, menciptakan lapangan kerja, memberikan rasa aman kepada rakyat menjadi aspirasi penting untuk diwujudkan. 

Untuk itulah negara Indonesia dibentuk yaitu untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan negara yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, partisipasi publik mesti ditingkatkan. Terutama mengkritisi dan memberi masukan terhadap caleg yang akan bertanding dalam pesta demokrasi nanti. Dengan terpilihnya caleg yang berintegritas dan berkualitas maka akan tercipta Indonesia yang diharapkan Soekarno yaitu lahirnya Indonesia yang berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian secara budaya. ***

Posted on 25 April 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: